{"id":473,"date":"2021-05-22T10:41:30","date_gmt":"2021-05-22T03:41:30","guid":{"rendered":"https:\/\/salfa.sch.id\/?p=473"},"modified":"2021-05-30T20:04:04","modified_gmt":"2021-05-30T13:04:04","slug":"kisah-syaban-yang-menyesal-saat-sakaratul-maut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/2021\/05\/22\/kisah-syaban-yang-menyesal-saat-sakaratul-maut\/","title":{"rendered":"KISAH SYA&#8217;BAN YANG MENYESAL SAAT SAKARATUL MAUT"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-474 alignleft\" src=\"https:\/\/salfa.sch.id\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/syaban.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"168\">Seorang sahabat Rasulullah SAW, Sya\u2019ban ra memiliki kebiasaan unik. Dia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah. Ia selalu mengambil posisi di pojok masjid pada setiap shalat berjamaah dan I\u2019tikaf. Alasannya, selalu mengambil posisi di pojok masjid karena ia tidak ingin mengganggu atau menghalangi orang lain yang akan melakukan ibadah di masjid. Kebiasaan ini, sudah dipahami oleh semua orang bahkan Rasulullah sendiri.<\/p>\n<p>Pada suatu pagi, saat shalat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW merasa heran karena tidak mendapati Sya\u2019ban ra pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya\u2019ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihat Sya\u2019ban ra.<\/p>\n<p>Shalat Subuh pun sengaja ditunda sejenak, untuk menunggu kehadiran Sya\u2019ban. Namun yang ditunggu belum datang juga. Karena khawatir shalat Subuh kesiangan, Rasulullah pun memutuskan untuk segera melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Hingga shalat Subuh selesai pun Sya\u2019ban belum datang juga.<\/p>\n<p>Selesai shalat Subuh Rasul pun bertanya lagi, \u201cApakah ada yang mengetahui kabar Sya\u2019ban?\u201d Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.<\/p>\n<p>Rasul pun bertanya lagi, \u201cApa ada yang mengetahui dimana rumah Sya\u2019ban?\u201d Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia tahu persis dimana rumah Sya\u2019ban.&nbsp;<\/p>\n<p>Rasulullah sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya tersebut, meminta diantarkan ke rumah Sya\u2019ban.&nbsp; Perjalanan dari masjid ke rumah Sya\u2019ban cukup jauh dan memakan waktu lama terlebih mereka menempuh dengan berjalan kaki.<\/p>\n<p>Akhirnya, Rasulullah dan para sahabat sampai di rumah Sya\u2019ban pada waktu shalat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan). Sampai di depan rumah Sya\u2019ban, beliau mengucapkan salam dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam.<\/p>\n<p>\u201cBenarkah ini rumah Sya\u2019ban?\u201d tanya Rasulullah.<\/p>\n<p>\u201cYa benar, ini rumah Sya\u2019ban. Saya istrinya.\u201d jawab wanita tersebut.<\/p>\n<p>\u201cBolekah kami menemui Sya\u2019ban ra, yang tidak hadir shalat Subuh di masjid pagi ini?\u201d ucap Rasul.<\/p>\n<p>Dengan berlinangan air mata, istri Sya\u2019ban ra menjawab, \u201cBeliau telah meninggal tadi pagi\u201d.<\/p>\n<p>\u201cInna lillahi Wa inna ilaihi roji\u2019un,\u201d jawab semuanya yang hadir.<\/p>\n<p>Satu-satunya penyebab Sya\u2019ban tidak hadir shalat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemputnya. Beberapa saat kemudian, istri Sya\u2019ban ra bertanya, \u201cYa Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApa saja kalimat yang diucapkannya?\u201d tanya Rasulullah.<\/p>\n<p>\u201cDi masing-masing teriakannya, dia berucap kalimat \u2018Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,\u201d jawab istri Sya\u2019ban.<\/p>\n<p>Rasulullah SAW pun melantunkan ayat yang terdapat surah Qaaf ayat 22: \u201cSesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam\u201d<\/p>\n<p>\u0644\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0643\u064f\u0646\u0652\u062a\u064e \u0641\u0650\u064a\u0652 \u063a\u064e\u0641\u0652\u0644\u064e\u0629\u064d \u0645\u0651\u0650\u0646\u0652 \u0647\u0670\u0630\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0643\u064e\u0634\u064e\u0641\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0646\u0652\u0643\u064e \u063a\u0650\u0637\u064e\u0627\u06e4\u0621\u064e\u0643\u064e \u0641\u064e\u0628\u064e\u0635\u064e\u0631\u064f\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u062d\u064e\u062f\u0650\u064a\u0652\u062f\u064c<\/p>\n<p>\u201cSaat Sya\u2019ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Bukan hanya itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah. Apa yang dilihat oleh Sya\u2019ban ra (dan orang yang sakaratul maut) tidak bisa disaksikan yang lain. Dalam padangannya yang tajam itu Sya\u2019ban ra melihat suatu adegan dimana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk shalat berjamah lima waktu. Perjalanan sekitar tiga jam jalan kaki, tentu itu bukan jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya\u2019ban ra diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke masjid,\u201d ujar Rasulullah.<\/p>\n<p>Dia melihat seperti apa bentuk surga yang dijanjikan sebagai ganjarannya. Saat dia melihat dia berucap \u201cAduh mengapa tidak lebih jauh\u201d timbul penyesalan dalam diri Sya\u2019ban ra, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih indah. Dalam penggalan kalimat berikutnya Sya\u2019ban ra melihat saat ia akan berangkat&nbsp;sholat&nbsp;berjamaah di musim dingin.<\/p>\n<p>Saat ia membuka pintu, berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk ke dalam rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Dia memakai dua baju, Sya\u2019ban memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.<\/p>\n<p>Dia berpikir jika kena debu tentu yang kena hanyalah baju yang luar dan sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan shalat dengan baju yang lebih bagus. Ketika dalam perjalanan menuju masjid dia menemukan seseorang yang terbaring yang kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya\u2019ban pun iba dan segera membukakan baju yang paling luar lalu dipakaikan kepada orang tersebut kemudian dia memapahnya ke masjid agar dapat melakukan shalat Subuh bersama-sama.<\/p>\n<p>Orang itupun selamat dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan shalat berjamaah. Sya\u2019ban ra pun kemudian melihat indahnya surga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi \u201cAduh!! Kenapa tidak yang baru\u201d timbul lagi penyesalan di benak Sya\u2019ban ra. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala besar, sudah tentu dia akan mendapatkan yang lebih besar jika dia memberikan pakaian yang baru.<\/p>\n<p>Berikutnya, Sya\u2019ban ra melihat lagi suatu adegan. Saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu. Bagi yang pernah ke Tanah Suci tentu mengetahui ukuran roti Arab (sekitar tiga kali ukuran&nbsp; rata-rata roti Indonesia). Ketika baru saja ingin memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta sedikit roti karena sudah tiga hari perutnya tidak diisi makanan. Melihat hal itu, Sya\u2019ban ra pun merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti tersebut dengan ukuran sama besar dan membagi dua susu ke dalam gelas dengan ukuran yang sama rata, kemudian mereka makan bersama-sama. Allah SWT kemudian memperlihatkan Sya\u2019ban ra dengan surga yang indah.<\/p>\n<p>Ketika melihat itupun Sya\u2019ban ra teriak lagi \u201c Aduh kenapa tidak semua!!\u201d Sya\u2019ban ra kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis&nbsp; tersebut, pasti dia akan mendapat surga yang lebih indah. Masya Allah, Sya\u2019ban bukan menyesali perbuatannya melainkan menyesali mengapa tidak optimal.<\/p>\n<p>Sesungguhnya pada suatu saat nanti, kita semua akan mati dan akan menyesal dengan kadar sesal yang berbeda. Bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya, karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia. Mereka meminta untuk ditunda ajalnya sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan meskipun hanya sedetik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: republika.co.id dengan beberapa penyesuaian.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Seorang sahabat Rasulullah SAW, Sya\u2019ban ra memiliki kebiasaan unik. Dia datang ke masjid sebelum waktu shalat berjamaah.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":474,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[81],"tags":[],"class_list":["post-473","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kisah-teladan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/473","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=473"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/473\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":475,"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/473\/revisions\/475"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/474"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=473"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=473"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/salfa.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=473"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}